Jenis Jenis Satelit Raster
Satelit Landsat
Program Landsat adalah program paling lama untuk mendapatkan citra Bumi dari luar angkasa. Satelit Landsat pertama diluncurkan pada tahun 1972; yang paling akhir Landsat 7, diluncurkan tanggal 15 April 1999. Instrumen satelit-satelit Landsat telah menghasilkan jutaan citra. Citra-citra tersebut diarsipkan di Amerika Serikat dan stasiun-stasiun penerima Landsat di seluruh dunia; dimana merupakan sumber daya yang unik untuk riset perubahan global dan aplikasinya pada pertanian, geologi, kehutanan, perencanaan daerah, pendidikan, dan keamanan nasional. Landsat 7 memiliki resolusi 15-30 meter.Penginderaan jauh Sistem satelit
Sistem Satelit
Sistem satelit dalam penginderaan jauh tersusun atas pemindai (scanner) dengan dilengkapi sensor pada wahana (platform) satelit, dan sensor tersebut dilengkapi oleh detektor.
Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
Sistem Satelit
Sistem satelit dalam penginderaan jauh tersusun atas pemindai (scanner) dengan dilengkapi sensor pada wahana (platform) satelit, dan sensor tersebut dilengkapi oleh detektor.
Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
- Penyiam merupakan sistem, perolehan data secara keseluruhan termasuk sensor dan detektor.
- Sensor merupakan alat untuk menangkap energi dan mengubahnya ke dalam bentuk sinyal dan menyajikannya ke dalam bentuk yang sesuai dengan informasi yang ingin disadap.
- Detektor merupakan alat pada sistem sensor yang merekam radiasi elektromagnetik.
Sistem Satelit Landsat
Satelit Landsat merupakan salah satu satelit sumber daya bumi yang dikembangkan oleh NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat. Satelit ini terbagi dalam dua generasi yakni generasi pertama dan generasi kedua. Generasi pertama adalah satelit Landsat 1 sampai Landsat 3, generasi ini merupakan satelit percobaan (eksperimental) sedangkan satelit generasi kedua (Landsat 4 dan Landsat 5) merupakan satelit operasional (Lindgren, 1985), sedangkan Short (1982) menamakan sebagai satelit penelitian dan pengembangan (Sutanto, 1994). Satelit generasi pertama memiliki dua jenis sensor, yaitu penyiam multi spektral (MSS) dengan empat saluran dan tiga kamera RBV (Return Beam Vidicon).
Satelit generasi kedua adalah satelit membawa dua jenis sensor yaitu sensor MSS dan sensor Thematic Mapper (TM). Perubahan tinggi orbit menjadi 705 km dari permukaan bumi berakibat pada peningkatan resolusi spasial menjadi 30 x30 meter untuk TM1 – TM5 dan TM7 , TM 6 menjadi 120 x 120 meter. Resolusi temporal menjadi 16 hari dan perubahan data dari 6 bits (64 tingkatan warna) menjadi 8 bits (256 tingkatan warna). Kelebihan sensor TM adalah menggunakan tujuh saluran, enam saluran terutama dititikberatkan untuk studi vegetasi dan satu saluran untuk studi geologi tabel (2.1) Terakhir kalinya akhir era 2000- an NASA menambahkan penajaman sensor band pankromatik yang ditingkatkan resolusi spasialnya menjadi 15m x 15m sehingga dengan kombinasi didapatkan citra komposit dengan resolusi 15m x 15 m.
Karakteristik Saluran pada Landsat ETM+
| Saluran | Panjang Gelombang (µm) | Resolusi Spasial (meter) | A p l i k a s i |
| 1 | 0,45 – 0,52 | 30 x 30 | Untuk pemetaan perairan pantai, pembedaan tanah dan vegetasi, analisis tanah dan air, dan pembedaan tumbuhan berdaun lebar dan konifer. |
| 2 | 0,52 – 0,60 | 30 x 30 | Untuk inventarisasi vegetasi dan penilaian kesuburan. |
| 3 | 0,63 – 0,69 | 30 x 30 | Untuk pemisahan kelas vegetasi dan memperkuat kontras antara penampakan vegetasi dan non-vegetasi. |
| 4 | 0,76 – 0,90 | 30 x 30 | Untuk deteksi akumulasi biomassa vegetasi, identifikasi jenis tanaman, dan memudahkan pembedaan tanah dan tanaman, serta lahan dan air. |
| 5 | 1,55 – 1,75 | 30 x 30 | Untuk menunjukkan kandungan air pada tanaman, kondisi kelembaban tanah dan berguna untuk membedakan awan dengan salju. |
| 6 | 10,40 – 12,50 | 60 x 60 | Untuk analisis vegetasi stress, pembedaan kelembaban tanah, klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi, dan pemetaan suhu. |
| 7 | 2,09 – 2,35 | 30 x 30 | Untuk pemetaan formasi geologi dan pemetaan hidrotermal. |
| 8 | 0,50 – 0,90 | 15 x 15 | Untuk peningkatan resolusi spasial. |
Sumber : Humaidi (2005)
PEMANFAATAN SATELIT LANDSAT
- Citra satelit Landsat yang mempunyai resolusi spasial dan spektral tinggi mampu membantu mencari faktor penyebab banjir, erosi dan tanah longsor dalam wilayah ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS).
- Peran citra satelit Landsat dan mempunyai keunggulan dalam resolusi spasial dan spektral membantu dalam penyediaan data regional dalam penentuan lokasi Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS) untuk pemantauan banjir, sedimen, dan sampah, karena kemampuannya untuk menggambarkan kondisi karakter ekosistem DAS secara digital. Selain itu.
- Integrasi citra satelit Landsat dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) mampu memetakan dan membuat tampilan menarik daerah rawan banjir dan kekeringan, gejala erosi, dan tanah longsor.
Satelit SPOT.
Satelit SPOT milik Perancis yang diluncurkan tahun 1986 dan beredar pada ketinggian 830 km cakupan ulang pada daerah yang sama setiap 16 hari, SPOT memiliki dua sensor (HRV1 dan HRV2). Kamampuan lebar cakupan 60-80 km
Satelite SPOT-5
Satelit Pengamatan Bumi SPOT-5 sukses ditempatkan pada orbitnya dengan bantuan roket Ariane 4 dari Guiana Space Center, Kourou pada tanggal 3 Mei 2002. Satelit SPOT-5 menawarkan kualitas citra satelit yang bagus, lebih hemat biaya untuk kebutuhan citra satelit. Kapasitas resolusinya bias mencakup area seluas 60 x 60 km atau 60 km x 120 km dalam instrument ganda. SPOT-5 satelit memberikan suatu keseimbangn ideal antara resolusi tinggi dan luas cakupan citra. Hasil citra SPOT-5 dapat diaplikasikan pada pemetaan skala menengah ( pada 1:25 000 dan 1:10 000) untuk perencanaan pedesaan dan perkotaan, eksplorasi gas dan minyak bumi serta manajemen kajian dari suatu bencana.
Karaktreristik Satelit SPOT-5
1. Tanggal peluncuran 3 mei 2002 di Guiana Space Centre, Kourou, French Guyana
2. Pesawat peluncur Ariane 4
3. Tinggi Orbit 822 kilometers
4. Inklinasi Orbit 98.7°, sun-synchronous
5. Kecepatan 7.4 Km/second (26,640 Km/hour)
6. Waktu melintas equator 10:30 AM (descending node)
7. Waktu orbit 101.4 minutes
8. Waktu lintas ulang 2-3 days, depending on latitude
9. Cakupan area 60 Km x 60 Km to 80 Km at nadir
10. Metric Accuracy < 50m horizontal position accuracy (CE90%)
11. Digitization 8 bits
12. Resolusi Pan: 2.5m from 2 x 5m scenes
-Pan: 5m (nadir)
-MS: 10m (nadir)
-SWI: 20m (nadir)
13. Saluran Citra Pan: 480-710 nm
-Green: 500-590 nm
-Red: 610-680 nm
-Near IR: 780-890 nm
-Shortwave IR: 1,580-1,750 nm
Satelit ALOS
Satelit ALOS adalah satelit milik Jepang yang merupakan satelit generasi lanjutan dari JERS-1 dan ADEOS yang dilengkapi dengan teknologi yang lebih maju, untuk memberikan kontribusi bagi dunia penginderaan jauh, terutama bidang pemetaan, pengamatan tutupan lahan secara lebih presisi dan akurat, sehingga untuk keperluan tersebut pada satelit dipasang dual frequency GPS receiver dan star tracker dengan presisi tinggi.
Sensor MODIS
Sensor MODIS pertama diluncurkan pada satelit Terra pada tanggal 18 Desember 1999 dan sensor MODIS kedua diluncurkan pada satelit Aqua pada tanggal 4 Mei 2002. Sensor MODIS melewati titik yang sama di bumi sekitar dua kali per hari baik sebagai Terra dan Aqua satelit mengorbit bumi dalam arah yang berlawanan, dengan Terra melintasi ekuator dari utara ke selatan di pagi hari, dan Aqua melintasi ekuator dari selatan ke utara di sore hari. Orbit tandem memungkinkan titik yang sama di bumi yang akan dilihat sekitar dua kali per hari, sekali selama pagi dan sore, yang memaksimalkan jumlah gambar bebas awan dikumpulkan dan download setiap hari. Ini sistem satelit siaran ganda terus menerus Data MODIS secara real-time ke stasiun tanah dan semua data MODIS disediakan gratis untuk semua pengguna potensial Untuk informasi lebih lanjut tentang Terra dan Aqua satelit dan sensor MODIS, silakan lihat MODIS FAQ
Satelit IKONOS
Satelit Ikonos adalah satelit resolusi tinggi yang dioperasikan oleh GeoEye. Kemampuannya yang terliput adalah mencitrakan dengan resolusi multispektral 3,2 meter dan inframerah dekat (0,82mm) pankromatik. Aplikasinya untuk pemetaan sumberdaya alam daerah pedalaman dan perkotaan, analisis bencana alam, kehutanan, pertanian, pertambangan, teknik konstruksi, pemetaan perpajakan, dan deteksi perubahan. Mampu menyediakan data yang relefan untuk studi lingkungan. Ikonos menyediakan pandangan udara dan foto satelit untuk banyak tempat di seluruh dunia.
Karakteristik :
1. Tanggal Peluncuran 24 September 1999 at Vandenberg Air Force Base, California, USA
2. Masa Operasi 7 tahun lebih
3. Orbit 98.1 derajad, sun synchronous
4. Kecepatan pada Orbit 7.5 km/detik
5. Kecepatan diatas bumi 6.8 km/detik
6. Kecepatan mengelilingi Bumi 14.7 kali tiap 24 jam
7. Ketinggian 681 kilometer (Low Earth Orbit)
8. Resolusi pada Nadir 0.82 meter (panchromatic); 3.2 meter (multispectral )
9. Resolusi 26° Off-Nadir 1.0 meter(panchromatic);4.0 meter (multispectral)
10. Cakupan Citra 11.3 kilometer pada nadir; 13.8 kilometer pada 26° off-nadir
11. Waktu Melintas Ekuator 10:30 AM solar time
12. Waktu Lintas Ulang 3 days at 40° latitude
13. Saluran Citra Panchromatic, blue, green, red, near IR.
Satelit ASTER
Satelit ASTER merupakan satelit berresolusi tinggi. ASTER dibangun oleh konsorsium pemerintah Jepang dengan berbagai kelompok peneliti. ASTER melakukan monitoring tutupan awan, es, temperatur lahan, penggunaan lahan, bencana alam, es lautan, tutupan salju dan pola vegetasi. Citra ini memiliki resolusi spasial 15 hingga 90 meter. Citra multispektral memiliki 14 saluran, yang memudahkan analisis obyek dengan panjang gelombang yang tidak terlihat oleh mata manusia seperti near IR, short wave IR, dan Thermal IR.Penyedia resmi citra ASTER adalah Sattelite Imaging Corporation (SIC) melalui USGS.
Karaktreristik Satelit ASTER
1. Tanggal Peluncuran 18 December 1999 at Vandenberg Air Force Base, California, USA
2. Orbit 705 km altitude, sun synchronous
3. Inklinasi Orbit 98.3 degrees from the equator
4. Periode Orbit 98.88 minutes
5. Ketinggian 681 kilometer
6. Resolusi pada Nadir 15 to 90 meters
7. Waktu Melintas Ekuator 10:30 AM solar time
8. Waktu Lintas Ulang 16 days
Satelit JERS.
Satelit JERS. Satelit ini milik Jepang, menggunakan sensor optik dengan resolusi tinggi (18 m) yang bekerja pada gelombang visible hingga near infrared (VNIR). Penggunaan kanal Infra Red ini sangat efektif untuk mendeteksi sumberdaya mineral
Carbon stocks
Kemajuan teknologi dan ilmu kehutanan semakin memudahkan investor menganalisis perkembangan stok karbon di konsesi mereka. Kombinasi satelit dan radar membuat pemantauan tutupan hutan dapat meningkatkan akurasi penilaian stok karbon. Hal ini mengemuka dalam diskusi panel bertajuk Laporan Terbaru dari Lapangan: Mekanisme Pengawasan, Pelaporan, dan Verifikasi Hutan Gambut di Jakarta, Selasa (26/7/2011). Diskusi dibuka Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, Hadi Daryanto.
Citra satelit berkait pengawasan, pelaporan, dan verifikasi (monitoring, reporting, and verification/MRV) belum efektif karena kerap terganggu awan. Oleh karena itu, data radar yang dipasang di bawah badan dan sayap pesawat atau pesawat ringan terbang di atas kawasan pemantauan, bisa disinkronkan dengan citra satelit yang belum komplit.
Teknologi radar membuat investor bisa menilai antara lain peningkatan stok karbon dari pertumbuhan tanaman. Kombinasi ini memudahkan pelaksanaan MRV sebagai mekanisme penting, untuk menilai pengurangan degradasi lahan dan penggundulan hutan dalam menekan emisi karbon. "Kita memerlukan MRV dengan teknologi baru. Teknologi citra satelit dari Amerika Serikat dan radar dari Jepang adalah kerja sama yang baik, sehingga kita bisa mengetahui seberapa besar emisi karbon ada di lahan gambut.
Indonesia kerap menjadi sorotan dunia internasional, dengan tuduhan penghasil emisi karbon terbesar akibat kebakaran lahan dan penggundulan hutan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan, Indonesia harus menurunkan emisi karbon tahun 2020 sebanyak 26 persen secara mandiri dan 41 persen dengan bantuan internasional.
Menurut peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Mahmud A Raimadoya, penelitian di konsesi hutan tanaman industri PT Sebangun Bumi Andalas Wood Industries dan mitra kerja di Sumatera Selatan, yang merupakan pemasok bahan baku pulp PT Indah Kiat Pulp and Paper, menunjukkan stok karbon naik. Investor pun tinggal memilih, ingin mengembangkan bisnis hutan tanaman berbasis lacak stok karbon atau langsung memperdagangkan stok karbon, sambil menunggu daur tanam-panen tiba.Pakar lahan gambut dari IPB, Basuki Sumawinata, menegaskan, peneliti harus cermat menghitung emisi karbon di lahan gambut. Penelitian harus meliputi musim hutan dan kemarau karena suhu, temperatur, dan kelembaban sangat memengaruhi emisi karbon.
DAFTAR PUSTAKA